Kiat Cegah Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Menurut Psikolog

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat terjadi 10 kasus kekerasan seksual di satuan pendidikan pada Januari 2023 hingga 18 Februari 2023.

Terkait hal itu, psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan pengenalan materi mengenai bagian tubuh pribadi dapat bermanfaat untuk mencegah anak menjadi korban kekerasan seksual.

“Ajarkan anak tentang bagian tubuh pribadi dari mulut sampai lutut, siapa saja yang boleh lihat atau sentuh, yakni diri sendiri, orang tua, khususnya ibu, dan dokter dengan didampingi orang tua,” kata Vera.

Bangun Ikatan dengan Anak di Era Digital dengan Bermain Bareng Ia juga menyarankan orang tua mengajarkan anak tentang apa yang harus dilakukan jika ada orang yang memaksa atau membujuk mereka, seperti berteriak, berlari, dan melapor atau menceritakan apa yang dialami pada orang tua.

“Tekankan bahwa apapun yang terjadi, tidak perlu takut karena bukan salah mereka,” ujarnya.

Saring SDMDi sisi lain, khusus untuk mencegah anak-anak menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan sekolah, Vera menyarankan pihak sekolah juga turut berusaha untuk lebih selektif lagi dalam menyaring sumber daya manusia (SDM) yang akan terlibat langsung dengan anak-anak.

Kemudian, berbicara dampak yang bisa dirasakan, bila korban kemudian merasa takut atau cemas, merasa bersalah, mempunyai pandangan negatif tentang dirinya, marah, dan malu.

Conor McGregor Dituduh Lakukan Kekerasan Seksual di Miami, Perwakilannya Membantah Menurut Vera, korban perlu pendampingan psikologis secara berkesinambungan untuk mengatasi perubahan emosi atau perilaku yang muncul.

Korban juga butuh pendampingan dalam memahami apa yang terjadi.

“Hindari memojokkan atau mengungkit-ungkit terus.

Bantu korban untuk kembali ke rutinitasnya,” imbaunya.

Dari 10 kasus kekerasan sesksual yang dilaporkan FSGI, sembilan di antaranya sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian dan semua dalam penanganan polisi.

Sementara satu kasus di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diselesaikan dengan memindahkan kelas mengajar dan pengurangan jam mengajar oknum guru pelaku.

Berkaca pada kasus yang terjadi, FSGI mencatat ada sejumlah modus pelaku dalam melancarkan aksinya terhadap korban, salah satunya pelaku membujuk agar mendapatkan barokah, mengevaluasi pembelajaran di dalam ruang Podcast pondok pesantren pada malam hari, kemudian melancarkan aksinya.

Pilihan Editor: Perlunya Intervensi Berkala untuk Atasi Trauma Korban Kekerasan Seksual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *